Leaf Sampling Unit – Industri kelapa sawit berperan penting dalam menopang ekonomi masyarakat di Indonesia mulai dari Petani, Koperasi, Perusahaan Swasta dan Perkebunan Negara. Pemeliharaan tanaman yang optimal adalah kunci untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan. Salah satu metode krusial dalam pengelolaan tanaman ini adalah melalui Leaf Sampling Unit, yang telah menjadi alat penting untuk pemantauan kesehatan dan nutrisi tanaman kelapa sawit. Teknik ini tidak hanya penting untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen buah kelapa sawit, tetapi juga untuk pengelolaan sumber daya yang efisien.

Apa Itu LSU pada Kelapa Sawit?

Leaf Sampling Unit (LSU) pada kelapa sawit adalah metode sistematis untuk mengambil sampel daun dari pohon kelapa sawit guna analisis laboratorium. Ini merupakan bagian penting dari manajemen kebun kelapa sawit, dimana sampel daun digunakan untuk menentukan kebutuhan nutrisi tanaman dan memonitor kesehatan tanaman secara keseluruhan.

Leaf sampling unit pada kelapa sawit adalah proses pengambilan sampel daun untuk analisis laboratorium guna menentukan status nutrisi tanaman. Ini melibatkan pemilihan daun yang spesifik dari tanaman kelapa sawit yaitu pelepah ke-3 untuk analisis unsur mikro (micronutrient), pelepah ke-9 untuk tanaman TBM dan pelepah ke-17 untuk tanaman TM pada waktu yang tepat. Tujuannya adalah untuk mendapatkan data yang akurat tentang kesehatan dan kebutuhan nutrisi tanaman.

Penggunaan LSU telah terbukti meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan pupuk di perkebunan kelapa sawit. Dengan memahami kebutuhan spesifik setiap blok tanaman, pengelolaan perkebunan menjadi lebih terarah dan efektif, mengurangi pemborosan dan meningkatkan hasil panen. Hal ini tentunya akan menurunkan biaya (budget) pemupukan yang berlebih serta mengurangi cemaran residu pupuk terhadap tanah di perkebunan kelapa sawit.

Pentingnya Leaf Sampling Unit untuk Industri Perkebunan Kelapa Sawit

Kagiatan LSU sawit memiliki banyak manfaat dan kegunaan untuk peningkatan produktivitas dan keberlanjutan bisnis perkebunan kelapa sawit. Berikut ini beberapa kegunaan dari kesatuan contoh daun (KCD):

1. Pemantauan Status Nutrisi Tanaman

Nutrisi tanaman hanya dapat diketahui secara akurat dan presisi melalui pengujian secara langsung bagian dari jaringan tanaman kelapa sawit yaitu daun kelapa sawit dan atau pelepah. Setelah dilakukannya pengambilan sampel dari blok dan pohon contoh, berikutnya bagian (cuplikan) sampel dibersihkan dan dikeringkan untuk selanjutnya di preparasi dan dilakukan pengujian kandungan unsur hara di laboratorium. Berdasarkan data hasil pengujian tersebut kita dapat mengetahui level diagnosa masing-masing unsur hara seperti level unsur Nitrogen, Fosfor, Kalium dan lain-lain.

Baca Juga :  Cara Mengatasi Serangan Ganoderma pada Tanaman Kelapa Sawit

2. Pengelolaan Sumber Daya

Kandungan unsur hara yang ada di dalam jaringan tanaman, dapat dijadikan dasar sebagai penentuan kebutuhan material pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman kelapa sawit selama 1 tahun. Tentunya, apabila penentuan dosis dan jenis pupuk didasari oleh kebutuhan tanaman, hal ini akan berdampak pada tepatnya penggunaan pupuk serta biaya pemupukan (budget pemupukan) tahunan. Selain dari pada itu, penggunaan pupuk yang sesuai dengan kebutuhan tanaman maka akan berdampak pada berkurangnya kerusakan tanah akibat pemakaian pupuk yang berlebih.

3. Deteksi Dini Masalah Agronomi di Areal Perkebunan

Kegiatan LSU yang dilakukan, tidak hanya berfokus pada pengambilan sampel saja. Monitoring atau pengamatan lapangan juga dilakukan seperti kondisi gulma, defisiensi hara secara visual, program penunasan pelepah, kondisi piringan, serangan hama & penyakit tanaman dan konservasi tanah & air di areal perkebunan kelapa sawit. Semua hasil pengamatan tersebut akan di dokumentasikan dalam laporan pengamatan dan akan disampaikan oleh penanggung jawab blok atau divisi atau estate. Sehingga dapat dilakukan tindakan perbaikan atau pencegahan sedini mungkin.

4. Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Hasil Panen

Nutrisi yang seimbang dan manajemen kesehatan tanaman yang baik dan efektif akan berdampak signifikan pada produktivitas TBS di areal perkebunan kelapa sawit. Tentunya hal ini diharapkan oleh investor atau pemilik perkebunan kelapa sawit tersebut. Tidak hanya itu, kepuasan juga akan dirasakan oleh tenaga panen karena mendapatkan buah TBS yang melebihi basis panen dengan waktu yang tidak terlalu lama untuk berjalan mencari buah di pohon.

5. Keberlanjutan Lingkungan

Saat ini masalah kerusakan lingkungan dan menurunnya daya dukung lahan untuk memberikan hasil yang optimal pada komoditi yang ditanam menjadi masalah umum di Indonesia. Hal ini tentunya bukan berarti tidak ada efek dari pengelolaan sebelumnya. Penggunaan pupuk dan herbisida yang tidak terukur dan cenderung pada keputusan sepihak saja, menjadikan kesehatan tanah menjadi menurun. Hal ini berdampak pada menurunnya mikroorganisme atau fauna tanah dan kehumusan tanah karena residu dari pupuk dan pestisida (fungsida, herbisida, insektisida dan rodentisida) yang digunakan. Melalui kegiatan LSU yang juga dibarengi dengan kegiatan Soil Sampling Unit (SSU), meka kesehatan dan kehumusan tanah dapat diketahui secara mendetail. Dari sinilah kita dapat merumuskan material yang dibutuhkan untuk membenahi tanah sehingga bisa menjadi lebih subur dan mengurangi kerusakan lingkungan akibat dari penggunaan pupuk dan pestisida yang berlebih.

Metode Leaf Sampling Unit

Pengambilan sampel daun kelapa sawit memiliki metode yang ilmiah dan didasari oleh kriteria tanaman untuk dijadikan sebagai sampel. Secara umum pengambilan sampel daun kelapa sawit dilakukan dengan beberapa tahapan berikut ini:

  1. Lakukan setting LSU menggunakan areal statement yang dimiliki kebun tersebut. Data areal statement minimal mencakup beberapa informasi seperti nama estate, kode divisi, kode blok, tahun tanam, jenis tanah, luas blok, penanganan khusus dan jenis bibit (jika ada).
  2. Pengelompokan 1 LSU dapat mencakup luasan 30-60 Ha dengan variasi tahun tanam maksimal 3 tahun.
  3. Jangan lupa juga, dalam pengelompokan juga mempertimbangkan jenis tanah, topografi dan jenis bibit.
  4. Setelah diketahui jumlah LSU yang akan diambil, buatlah daftar kerja kunjungan dan pembagian tim ke masing-masing LSU tersebut.
  5. Penetuan jumlah pohon sampel juga bervariasi tergantung pada keseragaman tanaman, topografi dan kultur teknis tertentu.
  6. Pohon yang akan dijadikan sebagai pohon sampel, memiliki kriteria diantaranya: (a). tidak pohon sakit begitu juga dengan 6 pohon disekelilingnya; (b). tidak pohon sisipan begitu juga dengan 6 pohon disekelilingnya; (c). tidak ditepi sungai, parit, danau, area terbuka, kandang ternak, perumahan begitu juga dengan 6 pohon disekelilingnya; (d). tidak pohon abnormal (non produktif) begitu juga dengan 6 pohon disekelilingnya. Intinya tanamn itu memiliki sifat dominan dengan tanaman pada umumnya.
  7. Setelah diperoleh pohon sampel, maka tahap berikutnya menentukan nomor pelepah yang akan diambil. Untuk analisis senyawa mikro seperti Boron, Cu (Tembaga), Zn (Seng), Mn (Mangan), Fe (Besi), Mo (Molibdenum) pelepah yang diambil adalah pelepah nomor ke-3. Sedangkan untuk analisis senyawa makro dan semi makro seperti N, P, K, Mg, Ca, S, Cl diambil dari pelepah nomor ke-3 (untuk TBM) dan ke-17 (untuk TM).
  8. Setelah ditemukan nomor pelepah yang akan diambil, ambilah pelepah dengan memotong dibawah duri efektif berkisar 5-10 cm. Pada saat pelepah terputus dan jatuh, usahakan seminimal mungkin menyentuh tanah, dan kalaupun terjatuh maka segera angkat pelepah tersebut.
  9. Ambil bagian anak daun di sekitar ekor kadal sebanyak 3 helai kiri dan 3 helai kanan atau bisa 2, 4, 5 dan seterusnya hingga mencukupi untuk dibawa ke laboratorium.
  10. Potong menjadi 3 bagian anak daun tersebut dan ambil bagian tengahnya sekitar 30-40 cm dan pisahkan dari lidinya. Kemudian masukkan ke dalam sampel yang telah diberi label Kode LSU, Nama Blok, Tanggal Pengambilan Sampel dan Nama Petugas Pengambil Sampel.
  11. Setelah sampel lengkap diambil dari kelompok LSU, langkah selanjutnya adalah membersihkan sampel daun tersebut menggunakan kapas yang dibasahi dengan air destilasi atau bisa juga dengan alkohol 70%.
  12. Setelah sampel bersih, langkah berikutnya rajang (potong kecil-kecil) sampel berukuran 1-2 cm dan keringkan menggunakan oven dengan suhu 60-70 derajat celcius selama 15-17 jam.
  13. Setelah sampel kering, lakukan penghalusan menggunakan mesin penghalus daun kering.
  14. Sampel yang telah menjadi serbuk siap untuk dilanjutkan pada proses pengujian sampel di laboratorium.
Baca Juga :  Pemupukan Kelapa Sawit

Analisis dan Interpretasi Data

Data hasil pengujian laboratorium kemudian dianalisis untuk mengetahui level kesehatan dan diagnosa unsur hara yang terkandung di dalam jaringan tanaman (daun kelapa sawit). Interpretasi tersebut berguna untuk memahami sebera rendah dan tingginya suatu unsur hara di dalam daun kelapa sawit. Level diagnosa yang biasa dikenal adalah Sangat Rendah (defisiensi), Rendah, Optimal, Tinggi dan Berlebih. Level yang ingin kita harapkan adalah pada level yang optimal.

Berdasarkan hasil analisis data, maka dapat diketahui kebutuhan pupuk untuk tanaman kelapa sawit secara tepat. Mulai dari dosis dan jenis pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman kelapa sawit untuk menghasilkan produktivitas TBS yang optimal.

Selain melalui analisis LSU tersebut, beberapa pertimbangan juga di analisis agar tanaman benar benar efektif dalam menyerap unsur hara yang diberikan. Adapun pertimbangan tersebut adalah

  1. Realisasi pemupukan 1-2 tahun terakhir
  2. Capaian produksi 1-2 tahun terakhir
  3. Kandungan hara di dalam tanah
  4. Efisiensi pemupukan, biasanya ini berbeda-beda pada setiap jenis pupuk yang digunakan
  5. Curah hujan 5 tahun terakhir
  6. Parameter lainnya yang ada di dalam tanah
  7. Total leaf cation pada daun kelapa sawit

Semua pertimbangan tersebut tidak mutlak dipenuhi, mengingat terkadang data dilapangan tidak bisa dijumpai. Minimal dengan kita melakukan analisa daun kelapa sawit, tanah dan asesmen di lapangan maka kita dapat menentukan dosis dan jenis pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman kelapa sawit.

Studi Kasus Manfaat LSU yang Dirasakan oleh Klien

Sejak tahun 2015 kami memberikan pelayanan jasa LSU, SSU dan penyusunan rekomendasi di berbagai daerah kebun kelapa sawit mulai dari petani swadaya, plasma dan inti perusahaan swasta. Banyak yang merasakan manfaat positif dari kegiatan LSU ini, mulai dari peningkatan produksi TBS, meningkatnya kesuburan tanah dan efektifnya budget pemupukan. Sebagai contoh kasus yang dialami oleh Bapak Yuji Siregar, salah satu petani kelapa sawit di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh. Beliau merasakan betul manfaatnya yakni kenaikan produksi yang signifikan.

Baca Juga :  Penyebab dan Fenomena Partenokarpi Pada Kelapa Sawit

Terdapat juga petani kelapa sawit di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau yang mengalami peningkatan produksi hampir mencapai 100% dan ini diluar dari ekspektasi kami semua. Mungkin rekan pembaca tidak percaya, berikut kami lampirkan screenshoot percakapan kami.

studi kasus lsu

Masih banyak lagi sebenarnya manfat LSU yang dirasakan oleh berbagai Klien kami yang tidak bisa kami sampaikan semuanya di halaman artikel ini, tentunya semua itu berkat kerjasama tim yang saling bersinergi. Ibaratkan kita sudah berobat ke Dokter Spesialis, kalau kita tidak menebus obatnya sesuai dengan resep dokter tersebut, besar kemungkinan penyakit sulit sembuh.

Kesimpulan

Leaf sampling unit merupakan komponen penting dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit. Teknik ini tidak hanya penting untuk memastikan pertumbuhan dan produktivitas tanaman yang optimal, tetapi juga untuk keberlanjutan industri kelapa sawit secara keseluruhan. Dengan pendekatan yang berbasis ilmu dan data, industri ini dapat mencapai hasil yang lebih baik sambil menjaga keseimbangan lingkungan.

Departemen Konsultan Sawit PT Master Mutu Indonesia, memberikan layanan untuk LSU, SSU, Asesmen Lapangan dan Penyusunan Rekomendasi Pemupukan tanaman kelapa sawit dengan harga yang sesuai dengan standar Petani Kelapa Sawit, bertanggung jawab, berintergritas, berpengalaman dan berkompeten dalam melaksanakan kegiatan pengambilan sampel daun, tanah dan penyusunan rekomendasi pemupukan. Silahkan kontak kami melalui HP/SMS/WA ke nomor 0813-6549-6595 atau email ke : admin@mastermutu.co.id.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *