BUDIDAYA KELAPA SAWIT

Penyebab Daun Kelapa Sawit Kuning dan Kering

Penyebab Daun Kelapa Sawit Kuning dan Kering
Bagikan:

Susun Bentang Alam – Berbicara mengenai penyakit tanaman pada kelapa sawit tidak akan selesai jika hanya ditinjau melalaui 1 aspek saja. Terdapat banyak faktor kenapa daun kelapa sawit menjadi kuning kemudian mengering dan berujung pada kematian tanaman itu sendiri.

Beberapa faktor yang menjadi penyebab daun menjadi kuning adalah bisa disebabkan oleh kurangnya asupan unsur hara dari dalam tanah yakni unsur makro dan mikro, pH tanah yang masam, defisit air, minim bahan organik, tingginya residu dalam tanah, dosis dan jenis pupuk tidak tepat, serangan penyakit dan hama.

Ulasan detail akan dibahas berikut ini:

1. Kekurangan Unsur Hara

Unsur hara merupakan zat penting yang harus tersedia bagi tanaman untuk pertumbuhan secara vegetatif dan generatif. Unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman kelapa sawit diantaranya:

  • Makro = N (Nitrogen), P (Phosphor), K (Potassion/Kalium), Mg (Magnesium)
  • Semi Makro = Ca (Calsium), S (Sulphur/Belerang), Cl (Cloride)
  • Mikro = B (Boron), Cu (Cuprum/Tembaga), Zn (Zinc/Seng), Mn (Mangan), Fe (Ferum/Besi), Mo (Molybdenum)

Ketiga kelompok unsur hara berikut, bisa diperoleh melalui pemupukan sehingga sangat bijak dalam memanajemen pemupukan untuk memenuhi kebutuhan unsur hara bagi tanaman kelapa sawit.

Penyebab Daun Kelapa Sawit Kuning dan Kering

Sumber komoditi yang digunakan adalah pupuk anorganik dan organik. Kedua jenis komoditi pupuk tersebut mengandung level ketinggian kandungan unsur hara yang berbeda.

Pupuk anorganik adalah pupuk yang berasal dari bahan tambang atau buatan di pabrik sehingga kandungan unsur hara jauh lebih tinggi dibanding dengan pupuk organik.

Contohnya saja pupuk urea yang mengandung unsur N sebanyak 46% sedangkan kandungan N di dalam pupuk organik hanya berkisar 1,5 – 3,0%.

Oleh sebab itu pemilihan jenis pupuk haruslah tepat agar pupuk yang diberikan tidak sia-sia dan tanaman pun terpenuhi kebutuhan unsur haranya.

Selengkapnya untuk mempelajari jenis pupuk anorganik yang sering digunakan untuk tanaman kelapa sawit dapat dilihat pada artikel ini : Jenis Pupuk Sawit Yang Beredar Sesuai SNI

Perlu Anda ketahui bahwa setiap kekurangan unsur hara tersebut maka akan berdampak pada perubahan ke arah negatif bagi tanaman kelapa sawit seperti daun menguning, hanya muncul bunga jantan, pelepah tegak, ketiak pelepah sempit dan masih banyak lagi.

Oleh sebab itu sangat penting bagi kita menentukan kebutuhan tanaman kelapa sawit melalui analisa daun dan tanah untuk mendapatkan rekomendasi pupuk yang tepat dan terukur

2. pH Tanah yang Masam

Tanah adalah media yang harus diperhatikan kondisinya agar sesuai dengan kondisi atau habitat tanaman yang dibudidayakan (kelapa sawit). Di Indonesia, sangat sulit mendapatkan tanah dengan pH yang netral (pH 7,00). Hal itu disebabkan oleh jenis endapan dan asal pembentukan tanah (bahan induknya).

Terkecuali untuk areal pesisir dimana hal ini dipengaruhi oleh intrusi air laut yang membaka logam kation basa seperti Na, K, Mg dan lain lain yang berikatan dengan anion kemudian membentuk senyawa garam.

hubungan pH tanah terhadap ketersediaan unsur hara

Pada gambar di atas dapat kita lihat hubungan pH tanah terhada banyaknya ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman kelapa sawit.

Berdasarkan ilustrasi tersebut bahwa pH optimal yang baik untuk ketersediaan semua unsur hara adalah pada rentang pH 6,4 – 7,0.

Dalam mengatasi pH yang masam, beberapa cara yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan kapur pertanian (kaptan) atau dolomite.

Menaikkan pH menggunakan 2 (dua) komoditi tersebut berlaku untuk tanah atau lahan mineral dan bukan gambut. Mengapa saya katakan demikian? mari kita ulas singkat.

Keasaman pH pada tanah mineral disebabkan oleh tingginya ion H+ (H-plus) dan adanya logam-logam kation seperti Al2+ (Al-dua plus), Fe3+ (Fe-3 plus), Mg2+ (Mg-dua plus), Ca2+ (Ca-2 plus), K+ (K-plus), Na+ (Na-plus) serta lainnya.

Maka untuk mengatasi pH menjadi basa bisa menggunakan kaptan atau dolomite dengan reaksi kimia kation berikatan dengan anion yakni CO3 (karbonat) membentuk senyawa garam.

Kita sama-sama ketahui bahwa garam biasanya memiliki pH yang netral.

Nah bagaimana untuk tanah gambut? atau tanah berbahan organik tinggi lainnya? mari kita ulas.

Tanah gambut banyak mengandung bahan organik bahkan unsur hara yang dibutuhkan tanaman juga masih dalam bentuk organik seperti N-Organik, P-Organik dan lain-lain. mengapa saya tulis demikian? karena secara mendasar unsur hara tersebut masih berikatan dengan molekul organik seperti asam fulvat, asam humat, dan beberapa senyawa fenol.

Selengkapnya mengenai karakteristik pH tanah gambut dapat membaca artikel lengkap ini: Mengapa pH Tanah Gambut Asam?

Kalau anda sudah membaca, maka saya langsung saja menjelaskan, dari ulasan tersebut maka pemberian kaptan atau dolomite sangat tidak efektif untuk menaikkan pH tanah gambut.

3. Defisit Air

Air memiliki peran yang sangat besar terhadap reaksi apapun di muka bumi, itulah salah satu maksud Tuhan Yang Maha Esa menciptakan air, yakni melangsungkan jalan kehidupan di muka bumi.

Baik kita balik ke ulasan mengenai defisit air.

Unsur hara yang kita berikan melalui pemupukan, dapat sampai ke akar di bantu oleh adanya molekul air di dalam tanah. Nah sudah terbayang bukan mengapa kita memupuk harus pada saat kondisi tanah lembah.

Dimana ada istilah bahwa pemupukan yang baik adalah pada saat air tidak menetes (saat hujan) dan mengalir (saat banjir) maka kondisi yang ideal untuk melakukan pemupukan adalah pada saat tanah lembab.

Permasalahan defisit air biasanya di areal perkebunan dengan topografi berbukit, dimana untuk areal yang lebih tinggi biasanya mengalami defisit yang besar.

Selain itu, areal dengan tekstur pasir yang tinggi juga rawan mengalami defisit air karena porositas yang sangat tinggi maka air cepat menguap atau mengalir pada kondisi tertentu.

4. Minim Bahan Organik

Lah apa hubungannya dengan bahan organik? pasti rekan-rekan ada yang punya pertanyaan begitu. Mari kita ulas singkat.

Bahan organik adalah material yang mengandung molekul organik yang mana sifatnya kebanyakan bermuatan negatif (anion). Sedangkan unsur hara yang diserap tanaman memiliki muatan positif (kation) maka secara alami anion akan mengikat kation.

Lalu apa hubungannya?

Jadi begini, fungsi bahan organik adalah pengganti koloid tanah yang bermuatan negatif. Terkadang tanah mineral sangat sedikit mengandung koloid yang bermuatan negatif, maka disinilah peran bahan organik untuk meningkatkan jumlah tangan tangan yang dapat mengikat sementara unsur hara yang kita berikan dari pemupukan.

Nah bagaimana dengan tanah berpasir yang sedang hingga tinggi? maka disinilah peran bahan organik yakni untuk memberikan molekul anion yang akan membantu mengikat sementara unsur hara yang kita berikan.

Itulah sebabnya mengapa tanah berpasir sangat dianjurkan perbanyak menggunakan pupuk organik seperti kotoran hewan, janjangan kosong (jankos) atau bahan organik lainnya.

Karena sifat dan karakter tanah berpasir tidak memiliki koloid tanah bermuatan negatif.

5. Tingginya Residu didalam Tanah

Residu adalah molekul atau senyawa kimia sisa dari reaksi kimia utama, biasanya residu akan menjadi kontaminan dan memiliki reaksi penghambat suatu reaksi kimia.

Residu di dalam tanah perkebunan baik itu perkebunan kelapa sawit atau komoditi lainnya, berasal dari pemupukan anorganik seperti TSP, NPK, Urea, Borate, Za dan lain-lain.

Selain dari pupuk anorganik, residu juga berasal dari herbisida, insektisida atau fungisida yang kita berikan.

Lalu apa dampak dari residu tersebut?

  • Mengikat unsur hara utama yang kita berikan seperti N, P, K, Mg, Ca, Cl, S, B, Cu, Zn, Mn, Fe, Mo sehingga akar akan sulit menyerap unsur hara tersebut karena terikat kuat dengan molekul residu
  • Menurunkan pH tanah menjadi lebih masam
  • Membunuh atau menjadi cekaman bagi mikroorganisme baik seperti cacing, bakteri dan jamur yang berperan baik dalam penguraian unsur hara di tanah
  • Menurunkan humus tanah
  • Tanah menjadi lebih keras dan warna menjadi lebih terang
  • Meningkatkan logam Al dan Fe sehingga unsur P akan terfiksasi oleh kedua logam tersebut

6. Dosis dan Jenis Pupuk Yang Tidak Tepat

Berbicara mengenai pemupukan maka harus ditetapkan secara bijak mulai dari penentuan dosis dan jenis yang dibutuhkan tanaman, budget pemupukan, alokasi anggaran, waktu pemupukan, cara pemupukan dan lokasi pemupukan.

Mengapa harus seperti itu?

Karena harga pupuk yang mahal sementara secara alami tanaman itu memerlukan pupuk untuk tumbuh secara vegetatif dan generatif (berproduksi) dengan baik. Maka menjadi kewajiban bagi kita untuk memberikan pupuk dengan dosis dan jenis yang tepat.

Sehingga pada akhirnya tanaman dapat menghasilkan TBS dengan jumlah yang optimal sesuai dengan potensi secara konservatif dari produsen benih yang sesuai dengan usia tanaman dan kelas tanah.

Salah satu metode yang sering digunakan untuk menentukan dosis dan jenis pupuk adalah melalui analisa daun (LSU) dan tanah (SSU) serta beberapa asesmen lapangan untuk mengidentifikasi faktor pembatas produksi dan efektivitas pemupukan di lapangan.

Selain itu evaluasi terhadap aspek lain juga harus dilakukan sebagai pertimbangan yaitu:

  • Dosis pupuk 1 tahun terakhir
  • Jenis pupuk 1 tahun terakhir
  • Produksi TBS 1 tahun terakhir
  • Jenis atau varietas bibit yang di budidaya
  • Sifat dan karakter masing-masing blok
  • Curah hujan 1 tahun terakhir
  • Usia tanaman yang dibudidayakan
  • Dan lain-lain

Maka dari itu, sangat penting bagi kita untuk memberikan unsur hara melalui pemupukan. Jika rekan-rekan tidak ingin melakukan kegiatan tersebut, maka minimal berikan pupuk yang sesuai dengan standar rekomendasi dari produsen benih berdasarkan usia tanaman dan jenis tanah.

Namun perlu diingat bahwa terkadang pemberian dengan dasar standar rekomendasi tersebut belum tentu cocok dengan kebutuhan tanaman karena ada faktor lain yang tidak dimasukkan dalam menentukan dosis dan jenisnya.

Mengingat bahwa kondisi areal perkebunan yang spesifik dan berbeda-beda.

7. Serangan Hama dan Penyakit (Organisme Pengganggu Tumbuhan)

Adakalanya daun kelapa sawit menjadi kuning dan kemudian berakhir pada kematian tanaman tersebut adalah ulah dari hama atau penyakit tanaman.

Berbicara mengenai hama dan penyakit tanaman, sangat banyak sekali seperti yang umum dijumpai yang menyebabkan daun menjadi kuning dan kemudian mengering adalah adanya jamur patogen yang menyerang akar atau bagian lain seperti daun dan pelepah.

Selain itu, rayap juga menjadi musuh bagi tanaman kelapa sawit karena jenis rayap ada 2 (dua) yakni rayap yang suka memakan jaringan tanaman yang sudah mati, biasanya untuk membantu proses pelapukan.

Namun ada 1 jenis rayap yang memakan jaringan tanaman masih hidup yakni Coptotermes Curvignathus. Karena batang kelapa sawit banyak mengandung selulosa maka rayap ini sangat suka menggerogoti batang tanaman sehingga kadang gejala awal adalah daun menguning karena tidak lancarnya asupan nutrisi dari akar ke daun.

Kesimpulan

Itulah beberapa penyebab daun kelapa sawit menguning, mengering dan kemudian berujung pada kematian tanaman. Hal yang dapat kita lakukan adalah melakukan identifikasi apakah 7 faktor tersebut ada di areal kebun rekan-rekan sekalian.

Semoga artikel yang kami tulis ini bisa memberikan manfaat bagi rekan-rekan petani kelapa sawit di Indonesia, pesan dari kami rawatlah tanaman kelapa sawit karena karakter iklim dan kondisi saat ini tidak bisa di samakan dengan tempoe doeloe, dimana zaman dulu sawit tidak di pupuk namun tetap berbuah karena ketersediaan unsur hara dan mikroorganisme baik masih banyak tersedia di dalam tanah.

Demikian kami sampaikan Terimakasih

Susunbentangalam.co.id

Leave a Comment

Artikel Terkait:

Artikel Terbaru: