Cara Menanam Bibit Sawit Yang Benar Menurut PPKS

Cara menanam bibit sawit yang benar itu sangat beragam seperti yang biasa kita lakukan sendiri pada saat mempersiapkan lahan perkebunan kelapa sawit.

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) memberikan informasi tentang Petunjuk Teknis Penanaman Bibit Kelapa Sawit Unggul di Lapangan.

Prosedur yang disampaikan ini bisa saja menjadi referensi bagi kita untuk menanam jenis bibit sawit apapun, tergantung dari kesanggupan kita masing-masing. Namun saran dari kami yaitu gunakanlah selalu bibit sawit yang berasal dari penyedia benih yang telah terdaftar di Kementrian Pertanian (bibit unggul).

Penting untuk diingat bahwa, jenis bibit juga sangat berpengaruh terhadap jumlah produksi dan kualitas TBS yang dihasilkan.

Oleh sebab itu berikut ini cara menanam bibit sawit yang bisa anda ikuti untuk mempermudah dalam proses penanaman.

A. Pengolahan Lahan Untuk Bibit Kelapa Sawit

Terdapat 7 (tujuh) tahap yang bisa diikuti untuk melakukan pengolahan lahan perkebunan kelapa sawit, diantaranya adalah:

1. Bajak (Luku 1)

Pekerjaan bajak luku dilakukan sebelum dilakukannya penumbangan pohon. Bajak ini bisa saja dilakukan pada perkebunan yang akan replanting atau penanaman baru.

Meluku 1 (satu) dilakukan dengan cara mencangkul dan membalik tanah dengan kedalaman minimal 30 cm dari permukaan tanah.

Meluku 1 tersebut dilakukan dengan arah diagonal terhadap barisan tanaman kelapa sawit.

Alat yang biasa digunakan adalah Disc Plough diameter 25 inchi dengan penggerak yang dibantu oleh traktor roda ban.

2. Memancang Rumpukan

Kegiatan memancang rumpukan dilakukan oleh personel juru ukur.

Arah pancang rumpukan dilakukan sejajar dengan barisan tanaman dan dilatakkan pada gawangan mati.

Setiap 2 (dua) baris tanaman yang ditumbang, dirumpuk menjadi 1 barisan rumpukan.

Pancangan rumpukan diusahakan selurus mungkin sehingga tidak mengenai rancangan barisan tanaman.

Atur jarak rumpukan dengan rancangan barisan tanaman pada jarang minimal 2 meter (jangan terlalu dekat).

3. Menumbang Pohon dan Chipping (Pencacahan)

Menumbang dan mencacah pohon dilakukan setelah diselesaikan pekerjaan memancang tempat rumpukan.

Saat dilakukannya penumbangan, usahakan bonggol pohon juga dibongkar.

Pohon yang telah ditumbang, kemudian diletakkan pada daerah yang dipancang rumpukan sebelumnya.

Jika melakukan cacahan, sebaiknya tebal batang yang dicacah berkisar 5-20 cm dengan sudut potong 45-60 derajat.

Alat yang biasa digunakan  untuk kegiatan penumbangan dan chipping adalah Excavator.

4. Pembersihan Sisa Akar

Akar yang tersisah dari kegiatan penumbangan dan chipping, dikumpulkan dengan cara dikutip lalu dikumpulkan di daerah rumpukan.

Akar yang dibersihkan adalah akar yang keluar ke permukaan tanah atau yang bisa ditarik secara manual.

5. Aplikasi Trichoderma 1

Aplikasi Trichoderma ini merupakan suatu kegiatan pencegahan terhadap serangan Ganoderma.

Tanaman kelapa sawit yang ditanam pada lahan bekas replanting rentan terhadap serangan Ganoderma pada tanaman baru, sehingga diperlukan pengaplikasian Trichoderma untuk menghambat dan menahan pertumbuhan Ganoderma.

Aplikasi Trichoderma 1 dilakukan pada rumpukan hasil cacahan batang dengan cara menaburkan diatas rumpukan cacahan batang.

Agar aplikasi Trichoderma merata, sebelum diaplikasikan sebaiknya Trichoderma dicampur dengan tanah dari lokasi tersebut.

6. Pembajakan Luku 2

Proses pekerjaan meluku (membajak) 2 dilakukan setelah proses pengerjaan penumbangan pohon sampai dengan pencacahan (chipping) selesai dilaksanakan.

Meluku 2 dilaksanakan dengan cara mencangkul dan membalikkan tanah dengan kedalaman 30 cm yang dilakukan searah dengan rumpukan tanaman.

Alat yang digunakan untuk melakukan pekerjaan ini adalah Disc Plough dengan ukuran diameter piringan 25 inchi (sama seperti meluku 1) yang ditarik dengan traktor roda ban.

7. Rajang (Harrow)

Rajang dilakukan searah dengan luku 2 yang dilaksanakan pada waktu 14 hari setelah pekerjaan Luku 2 selesai.

Alat yang biasa digunakan untuk rajang adalah Harrow yang ditarik dengan Traktor Roda Ban (TRB).

Pekejaan ini dilakukan untuk tujuan meratakan tanah yang masih menumpuk-numpuk.

Kedalaman rajang dilakukan pada minimal 15 cm dari permukaan tanah.

B. Penamaman dan Pemeliharaan Tanaman Penutup Tanah

Tanaman penutup tanah atau sering disebut Legume Cover Crop (LCC) sangat sering dijumpai dilahan perkebunan kelapa sawit dengan tujuan untuk menjaga pertumbuhan gulma liar dan menjaga kelembaban tanah. LCC sering juga disebut dengan Kacangan.

Kegiatan penanaman dan membangun kacangan harus didahului dengan pemancangan dan pembuatan jalur tanaman kacangan itu sendiri.

Janis LCC yang biasa digunakan dan dijual bebas adalah Pueraria javanica (PJ), Colopogonium mucunoides (CM), Centrosema pubescens (CP) dan Mucuna bracteata (MB).

Penanaman kacangan dari stek atau semai dilakukan searah baris tanaman dengan populasi 200-400 stek/hektar, perlu diperhatikan bahwa jarak per gawangan minimal 2 baris tanaman kacangan (stek).

Khusus untuk tanaman penutup tanah jenis MB dibutuhkan 600-700 stek/hektar.

MB ditanam 2 baris setiap gawangan dengan jarak barisan adalah 2 meter dari barisan tanaman dan jarak titik tanam MB dalam barisan adalah 5 meter.

Setelah 1 bulan waktu penanaman LCC sebaiknya diberi pupuk NPK dengan komposisi 15-15-6-4 dengan dosis aplikasi sebanyak 10 gram per pohon.

Penyiangan dilakukan setiap rotasi 1 kali dalam sebulan sejak tanaman LCC di tanam.

Bagi tanaman LCC yang mati, agar segera disisip dengan tanaman yang baru.

Cara menanam bibit sawit yang benar selanjutnya adalah sebagai berikut:

C. Pembuatan Lubang Tanam Besar (Big Hole) untuk Areal Replanting (Tanam Ulang) dan Lubang Tanam Biasa untuk Areal Bukaan Baru

Setelah kegiatan persiapan lahan dan penanaman LCC di kebun yang akan dijadikan untuk komoditas tanaman kelapa sawit maka kegiatan selanjutnya adalah:

1. Pemancangan Titik Tanam

Arah barisan tanaman yang diatur adalah Utara-Selatan dan pada keadaan tertentu arah barisan dapat diubah dan disesuaikan dengan topografi lahan perkebunan.

Jarak tanam yang diterapkan adalah segitiga sama kaki dan atau disesuaikan dengan topografi lahan.

Areal yang rata sampai dengan bergelombang (0-28 derajat) jarak tanam yang diterapkan adalah7,692 x 9,09 meter sehingga kerapatannya adalah 143 pohon per hektar.

Untuk areal berbukit (>28-45 derajat) jarak tanam yang bisa diterapkan adalah 8,333 x 9,09 meter sehingga kerapatan tanaman bisa mencapai 132 pohon per hektar.

Titik tanam yang dipancang harus lurus dan sering disebut dengan mata 5.

2. Membuat Lubang Tanam Besar (Big Hole)

Pembuatan lubang tanam besar dilaksanakan lebih kurang 4 minggu sebelum penanaman bibit sawit.

Titik pancang lubang tanam besar bergeser searah barisan tanaman 1,5 meter dan searah gawangan 1,5 meter.

Ukurang lubang tanam besar adalah 3 x 3 x 1 meter.

3. Aplikasi Tandan Kosong Sawit (TKKS) dan Biofungisida Trichoderma

Setelah lubang tanam besar selesai dibuat, maka selanjutnya adalah lubang tanam besar diisi dengan TKKS dengan dosis 400 Kg per lubang tanam.

Selanjutnya aplikasikan Biofungisida di atas TKKS yang telah diaplikasikan sebelumnya dengan cara ditabur merata dengan dosis 400 gram per lubang tanam.

Agar penaburan Biofungisida merata sebelum pengaplikasian lakukan pencampuran dengan tanah bekas galian.

Setelah diinkubasi (didiamkan) selama 4 minggu, penanaman bibit dapat dilakukan.

Penanaman bibit dilakukan dengan cara membuat kembali lubang tanam kecil dengan ukuran 60x60x60 cm.

4. Pembuatan Lubang Tanam Biasa

Lubang tanam biasa dibuat dengan cara melubangi titik pancang pada ukuran 60x60x60 cm. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara manual yaitu menggunakan cangkul atau secara mekanis dengan menggunakan hole digger.

Setelah lubang tanam jadi, maka berikutnya adalah pengaplikasian biofungisida Trichoderma sebanyak 200 gram per lubang tanam ditambah pupuk Rock Phosphate sebanyak 500 gram per lubang tanam.

Pemberian dilakukan dengan cara menabur tipis keseluruh bagian lubang tanam dan bagian tepi (atas) lubang tanam.

Setelah itu lubang tanam didiamkan selama 2 minggu sebelum ditempatkan bibit tanaman sawit.

5. Penanaman Bibit Kelapa Sawit

Bibit kelapa sawit yang siap untuk ditanam adalah tanaman yang telah berumur 10-12 bulan sejak pembibitan awal di polibag.

Sebelum bibit ditanam, kedalaman lubang tanam disesuaikan dengan ketebalan tanah di polybag.

Buka polybag dan masukkan bibit ke dalam lubang tanam yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Timbun lubang tanam dengan tanah lapisan atas (topsoil) sambil dipadatkan agar bibit tidak goyang dan doyong.

6. Konsolidasi Tanaman

Konsolidasi dilakukan setiap bulan setelah bibit di tanam di lapangan.

Hal ini bertujuan untuk memastikan bibit yang kita tanam tumbuh dengan baik.

Bagi tanaman yang doyong agar ditegakkan dan tanaman yang mati atau terserang hama penyakit atau abnormal segera diganti dengan tanaman baru (disisip).

Penyisipan tanaman dilakukan maksimal sampai tanaman berumur lima tahun

Itulah informasi mengenai cara menanam bibit sawit yang benar, sebagai catatan untuk areal replanting (tanam ulang) dianjurkan untuk menggunakan lubang tanam dengan sistem Big Hole (lubang besar), namun untuk areal rendahan atau pada areal dengan fraksi liat yang tinggi (daya infiltrasi rendah) tidak dianjurkan menggunakan sistem big hole karena akan berpotensi tanaman menjadi terendam.

Pada areal bukaan baru, penanaman dapat menggunakan lubang tanam biasa. Perlu diingat bahwa aplikasi bahan organik melalui TKKS perlu dilakukan setiap tahun (baik untuk areal replanting ataupun areal bukaan baru) dengan dosis 200 kg per pokok. Adapun pengaplikasian dilakukan dengan cara disusun pada sekeliling piringan dengan ketebalan satu lapis.

Referensi:

Petunjuk Teknis Penanaman Bibit Sawit Unggul di Lapangan. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Indonesian Palm Oil Research Institute. Dapat diakses DISINI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *